Namanya Triasdono, usianya kini menginjak 78 tahun. Ia adalah bagian dari sejarah awal Universitas Terbuka (UT), tepatnya tercatat sebagai salah satu alumni angkatan pertama yang mendaftar saat UT berdiri pada tahun 1984. Mengambil program studi Administrasi Negara, ia berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1988.
"Waktu itu saya salah satu lulusan terbaik. Bangga sekali rasanya," ungkapnya mengenang masa itu.
Meski sudah sepuh, pria yang akrab disapa Pak Tri ini tetap menaruh perhatian besar pada dunia pendidikan. Sejak tahun 1990, di samping tugas utamanya sebagai kepala sekolah, ia aktif mengelola Kelompok Belajar (Pokjar)—yang kini bertransformasi menjadi Sentra Layanan UT (SALUT). Hingga saat ini, ia masih memegang teguh amanah tersebut sebagai Ketua SALUT Konawe Selatan.
Perjalanan hidup Pak Tri penuh dengan kejutan. Bukan putra daerah Sulawesi, ia lahir di Yogyakarta. Setelah lulus dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1975, ia merantau ke Jakarta dengan semangat membara untuk menata masa depan. Namun, suasana kota besar ternyata tak cocok di hatinya. Setelah beberapa bulan, ia memutuskan untuk mencari tantangan baru di tempat lain.
Sebuah iklan lowongan kerja di koran menarik perhatiannya: lowongan sebagai pembina transmigrasi di Sulawesi Tenggara. "Karena tertulis sebagai pembina, saya semangat mendaftar. Saya pikir akan menjadi penyuluh. Ternyata, malah jadi peserta transmigrasi beneran!" kenangnya sambil tertawa lepas.
Pak Tri ditempatkan di wilayah transmigrasi Waepai, Kabupaten Kendari (kini wilayah Kabupaten Konawe). Takdir rupanya membawa keberuntungan lain bagi pemuda asal Jogja ini.
"Alhamdulillah, awal tahun 1976 ada penerimaan guru. Saya daftar dan langsung lulus. Saya ditempatkan di SD 2 Lainea, yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Laeya," ceritanya. Di Lainea inilah ia bertemu jodohnya, seorang gadis Bugis yang merupakan putri dari Kepala Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) setempat.
Meski kariernya sebagai guru sudah mantap, hasrat Pak Tri untuk menempuh pendidikan tinggi tak pernah padam. "Dulu saya ingin kuliah di Makassar, tapi jaraknya sangat jauh dan saya tidak mungkin meninggalkan tugas. Begitu UT dibuka tahun 1984, semangat saya langsung bangkit. Akhirnya, impian untuk kuliah terwujud," tuturnya ceria.
Ia mengenang masa kuliah di masa lalu yang penuh tantangan. "Saat itu UT belum seperti sekarang. Modul harus dibaca mandiri, dan tugas-tugas harus dikirim lewat pos."
Setelah lulus dari UT pada tahun 1988, Pak Tri diangkat menjadi kepala sekolah di SD 2 Lainea—tempat yang sama di mana ia memulai karier gurunya. Di masa itu pula, pimpinan UT Kendari memintanya untuk mengelola Pokjar Lainea karena belum ada pengelola yang aktif di sana.
"Saat itu saya berpikir, saya harus berguna. Menjadi sarjana berarti harus menjadi orang yang bermanfaat," ujarnya sambil terkekeh. "Apalagi gelar saya waktu itu masih Drs. Orang di Lainea sangat takjub karena gelar itu masih asing. Tentu itu kebanggaan, tapi gelar akan terasa kosong jika tidak dibarengi dengan karya nyata," tambahnya dengan nada serius.
Kini, di usia 78 tahun, Pak Tri tetap memegang teguh prinsipnya. Meskipun sudah pensiun dari kedinasan selama 18 tahun, ia masih konsisten mendampingi mahasiswa UT di SALUT Lainea. Semangatnya tidak pernah pudar dalam mengawal pendidikan bagi generasi muda di pelosok, memastikan bahwa akses pendidikan tinggi tetap terbuka bagi siapa saja, di mana saja. (Dok.SMR01)
Kunjungi kami atau hubungi untuk informasi lebih lanjut
Desa Labaha Kec. Watopute Kab. Muna, Sulawesi Tenggara
+62 812-3456-7890
info@konsultasiakademik.id
Senin - Jumat: 08:00-20:00 WITA
Sabtu: 09:00 WITA - 17:00 WITA
Minggu: Tutup